DESAIN PEMBELAJARAN
MODEL GAGNE

Disusun Oleh:
KELOMPOK 7
LARAS BILKIS
A.NUR IRFAH KHUMAIRA
ARDIANTO
MUSTANG.H
MUZAKKIR
ABDUL WAHID HASYIM
FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ALAUDDIN
MAKASSAR
2014
A. PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Pada hakekatnya, belajar merupakan
proses yang kompleks dan terjadi pada semua orang serta berlangsung seumur
hidup. Kompleksitas belajar tersebut melahirkan banyak teori-teori yang
berkembang dan berusaha untuk menjelaskan bagaimana proses belajar tersebut
dapat dijelaskan secara ilmiah.
Tiap teori belajar menitikberatkan
pada tumpuan yang berbeda-beda, ada yang lebih mementingkan proses belajar,
pada hasil belajar, pada isi atau konten bahan ajar, ada pula yang mengutamakan
kepada pembentukan atau mengkonstruksi pengetahuan, sikap atau keterampilannya
sendiri
Kegiatan pembelajaran tidak dapat
dilakukan sembarangan, tetapi harus berlandaskan peda teori-terori dan
prinsip-prinsip belajar tertentu agar bisa bertindak secara tepat.
Artinya teori-teori belajar ini diharapkan dapat mengarahkan dalam merancang
dan mealksanakan kegiatan pembelajaran. Walaupun teori belajar tidak
dapat diharapkan menentukan langkah demi langkah dalam kegiatan pembelajaran,
namun akan dapat memberikan arah prioritas dalam kegiatan pembelajaran. [1] Oleh karena itu para pelaku pembelajaran baik guru,
perancang pembelajaran dan para pengembang program pembelajaran yang
profesional harus dapat memilih teori belajar yang tepat untuk digunakan dalam
desain pembelajaran yang akan dikembangkannya.
Teori belajar yang dikemukakan oleh
Robert M. Gagne merupakan salah satu teori belajar yang penting untuk diketahui
serta diterapkan dalam belajar. Hal-hal yang dibicarakan oleh Gagne dalam
teorinya adalah mengenai peristiwa belajar, kemampuan belajar dan tipe belajar.
2.
Rumusan Masalah
Dari latar belakang di atas dapat
dirumuskan beberapa rumusan masalah:
a.
Bagaimanakah peristiwa-peristiwa belajar menurut Robert M. Gagne?
b.
Bagaimanakah kemampuan belajar menurut Robert M. Gagne?
c.
Bagaimanakah tipe-tipe belajar menurut Robert M. Gagne?
d. Kelebihan dan kekurangan model
pembelajaran menurut Robert M.Gagne?
B. PEMBAHASAN
1.
Peristiwa-persitiwa Belajar menurut Robert M. Gagne
Pembelajaran
menurut Gagne [2] adalah
seperangkat proses yang bersifat internal bagi setiap individu
sebagai hasil transformasi rangsangan yang berasal dari persitiwa eksternal di
lingkungan individu yang bersangkutan (kondisi). Agar kondisi eksternal
itu lebih bermakna sebaiknya diorganisasikan dalam urutan persitiwa
pembelajaran (metode atau perlakuan). Selain itu, dalam usaha mengatur
kondisi eksternal dierlukan berbagai rangsangan yang dapat diterima oleh panca
indra, yang dikenal dengan nama media dan sumber belajar.
Pembelajaran
menurut Gagne hendaknya mampu menimbulkan persitiwa belajar dan proses
kognitif. Peristiwa belajar (instructional events) adalah
persitiwa dengan urutan sebagai berikut : menimbulkan minat dan memusatkan
perhatian agar peserta didik siap menerima pelajaran, menyampaikan tujuan
pembelajaran agar pseerta didik tahu apa yang diharapkan dala pembelajaran itu,
mengingat kembali konsep/prinsip yang telah dipelajari sebelumnya yang
merupakan prasyarat, menyampaikan materi pembelajaran, memebrikan bimbingan atau
pedoman untuk belajar, membangkitkan timbulnya unjuk kerja peserta didik,
memberikan umpan balik tentang kebenaran pelaksanaan tugas, mengukur/evaluasi
belajar, dan memperkuat referensi dan transfer belajar. [3]
Suciati dan Irawan menjelaskan sembilan
peristiwa pembelajaran Gagne dalam bentuk bagan sebagai berikut : [4]
No
|
Peristiwa Pembelajaran
|
Penjelasan
|
1
|
Menimbulkan minat dan memusatkan perhatian
|
Peserta
didik tidak selalu siap dan fokus pada awal pembelajaran. Guru perlu
menimbulkan minat dan perhatian anak didik melalui penyampaian sesuatu yang
baru, aneh, kontradiktif atau kompleks
|
2
|
Menyampaikan tujuan pembelajaran
|
Hal
ini dilakukan agar peserta didik tidak menebak-nebak apa yang diharapkan dari
dirinya oleh guru. Mereka perlu mengetahui unjuk kerja apa yang akan
digunakan sebagai indikator penguasaan pengetahuan atau keterampilan
|
3
|
Mengingat kembali konsep/prinsip yang telah
dipelajari yang merupakan prasyarat
|
Banyak
pengetahuan baru yang merupakan kombinasi dari konsep, prinsip atau informasi
yang sebelumnya telah dipelajari, untuk memudahkan mempelajari materi baru
|
4
|
Menyampaikan materi pembelajaran
|
Dalam
menjelaskan materi pembelajaran, menggunakan contoh, penekanan untuk
menunjukkan perbedaan atau bagian penting, baik secara verbal maupun
menggunakanfitur tertentu (warna, huruf miring, garisbawahi, dsb)
|
5
|
Memberikan bimbingan atau pedoman untuk
belajar
|
Biimbingan
diberikan melalui pertanyaan-pertanyaan yang membiimbing proses/alur pikir
peserta didik. Perlu diperhatikan agar bimbingan tidak diberikan secara
berlebihan
|
6
|
Memperoleh unjuk kerja peserta didik
|
Peserta
didik diminta untuk menunjukkan apa yang telah dipelajari, baik untuk
myakinkan guru maupun dirinya sendiri
|
7
|
Memberikan umpan balik tentang kebenaran
pelaksanaan tugas
|
Umpan
balik perlu diberikan untuk membantu peserta didik mengetahu sejauh mana
kebenaran atau unjuk ekrja yang dihasilkan
|
8
|
Mengukur/mengevaluasi
hasil belajar
|
Pengukuran
hasil belajar dapat dilakukan melalui tes maupun tugas. Perlu
diperhatikan validitas dan reliabilitas tes yang diberikan dari hasil
observasi guru
|
9
|
Memperkuat
referensi dan transfer belajar
|
Referensi
dapat ditingkatkan melalui latihan berkali-kali menggunakan prinsip yang
dipelajari dalam konteks yang berbeda. Mondisi/situasi pada saat
transfer belajar diharapkan terjadi, harus berbeda. Memecahkan masalah
dalam suasana di kelas akan sangat berbeda dengan susasana riil yang
mengandung resiko
|
Menurut Gagne, belajar memberi kontribusi
terhadap adaptasi yang diperlukan untuk mengembangkan proses yang logis,
sehingga perkembangan perilaku (behaviour) adalah hasil dari efek
belajar yang kumulatif serta tidak dapat didefinisikan dengan mudah karena
belajar bersifat kompleks.
2.
Kemampuan Belajar menurut Robert M. Gagne
Gagne
mengkajji masalah belajar yang kompleks dan menyimpulkan bahwa informasi dasar
atau keterampilan sederhana yang dipelajari mempengaruhi terjadinya belajar
yang lebih rumit. Menurut Gagne ada lima kategori kemampuan belajar,
yaitu :[5]
a.
keterampilan intelektual atau kemmepuan seseorang untuk berinteraksi dengan
lingkungannya masing-masing dengan penggunaan lambang. Kemampuan ini
meliputi:
(1) asosiasi dan mata
rantai (menghubungkan suatu lambang dengan suatu fakta)
(2) diskriminasi
(membedakan suatu lambang dengan lambang lain)
(3) konsep
(mendefinisikan suatu pengertian atau prosedur)
(4) kaidah
(mengkombinasikan beberapa konsep dengan suatu cara)
(5) kaidah lebih tinggi
(menggunakan beberapa kaidah dalam memecahkan suatu masalah)
b.
strategi/siasat kognitif yaitu keterampilan peserta didik untuk mengatur proses
internal perhatian, belajar, ingatan dan pikiran
c.
informasi verbal, yaitu kemampuan untuk mengenal dan menyimpan nama atau
istilah, fakta, dan serangkaian fakta yang merupakan kumpulan pengetahuan
d.
keterampilan motorik, yaitu keterampilan mengorganisasikan gerakan sehingga terbentuk
keutuhan gerakan yang mulus, teratur, dan tepat waktu
e.
sikap, yaitu keadaan dalam diri peserta didik yang mempengaruhi (bertindak
sebagai moderator atas pilihan untuk bertindak). Sikap ini meliputi
komponen afektif, kognitif dan psikomotorik.
Untuk mempermudah pembahasan kelima kemampuan
belajar ini disajikan dalam tabel sebagai berikut :
No
|
Jenis hasil belajar
|
Deskripsi kemampuan
|
Contoh
|
1
|
Kemampuan intelektual
|
Menerapkan konsep dan peraturan untuk
mengatasi masalah dan ide-ide untuk menghasilkan produk
|
Mentakhrij hadits untuk mengetahui validitas
hadits untuk selanjutnya digunakan sebagai dasar penentuan sebuah fatwa agama
|
2
|
Strategi kognitif
|
Mengelola pikiran dan proses belajar
seseorang
|
Secara selektif menggunakan pendekatan ushul
fiqih, ilmu hadits dan ilmu tafsir dalam beristinbath hukum mengenai
suatu permasalahan kontemporer yang belum pernah dibahas sebelumnya
|
3
|
Informasi verbal
|
Menyebut, menceritakan, atau menggambarkan
informasi yang telah tersimpan sebelumnya
|
Menyebutkan kaidah-kaidah ushul fiqih
|
4
|
Kemampuan keterampilan motorik (skill)
|
Melaksanakan suatu tindakan dengan tepat dan
cepat
|
Seorang yang hafal al-Quran segera dapat
membenarkan bacaan ketika terjadi kesalahan yang tidak disengaja
|
5
|
Sikap
|
Menentukan tidakan pribadi
|
Dalam sebuah majelas taklim, seorang ulama
mendengarkan pertanyaan umat mengenai berbagai masalah agama yang mereka
hadapi dan dapat merespons dalam majelis tersebut
|
Gagne
juga menyatakan bahwa untuk dapat memperoleh dan menguasai kelima kategori
kemampuan belajar tersebut di atas, ada sejumlah kondisi yang perlu
diperhatikan oleh pendidik. Ada kondisi belajar internal yang timbul dari
memori peserta didik sebagai hasil belajar sebelumnya, dan ada sejumlah kondisi
eksternal ditinjau dari peserta didik. Kondisi eksternal ini bila diatur
dan dikelola dengan baik merupakan usaha untuk membelajarkan, misalnya
pemanfaatan atau penggunaan berbagai media dan sumber belajar.
Berdasarkan
kondisi internal dan eksternal tersebut, Gagne menjelaskan bagaimana proses
belajar itu terjadi. Model proses belajar yang dikembangkan oleh Gagne
didasarkan pada teori pemrosesan informasi , yaitu sebagai berikut:
a.
Rangsangan yang diterima panca indera akan disalurkan ke pusat syaraf dan
dikenal sebagai informasi.
b.
Informasi dipilih secara selektif, ada yang dibunag, ada yang disimpan dalam
memori jangka pendek, dan ada yang disimpan dalam memori jangka panjang.
c.
Memori-memori ini tercampur dengan memori yang telah ada sebelumnya, dan dapat
diungkap kembali setelah dilakukan pengolahan.
Didasarkan
atas teori pemrosesan infromasi tersebut, Gane mengemukakan bahwa suati
tindakan belajar meliputi delapan kejadian-kejadian eksternal yang dapat
distrukturkan oleh siswa dan guru, dan setiap fase ini dipasangkan dengan suatu
proses internal yang terjadi dalam pikiran siswa. [6]
3.
Tipe-tipe Belajar menurut Robert M. Gagne
Gagne
menyusun tipe-tipe belajarberdasarkan hasil belajar yang diperoleh dan bukan
proses belajar yang dilalui peserta didik untuk mencapai hasil itu.
Selain itu, Gagne mencoba menempatkan delapan tipe belajar itu berada dalam
suatu urutan hirakis, yaitu tipe belajar yang satu menajdi dasar atau landasan
tipe belajar berikutnya. Dengan demikian, peserta didik yang tidak
menguasai tipe belajar yang terdahulu, akan mengalami kesulitan dalam
mengusai tipe belajar selanjutnya. Selanjutnya Gagne menambahkan bahwa
empat tipe belajar pertama (nomor 1 s/d 4) kurang relevan untuk belajar
di sekolah, sedangkan empat tipe kedua (nomor 5 s/d 8) lebih menonjolkan pada
belajar kognitif yang memang ditonjolkan di sekolah. [7]
Untuk lebih jelasnya, kedelapan tipe belajar ini disajikan dalam tabel berikut:
[8]
No
|
Tipe Belajar
|
Hasil Belajar
|
Contoh Prestasi
|
1
|
Belajar sinyal(signal learning)
|
Memberikan reaksi pada perangsang (S-R)
|
Guru sejarah yang galak dikuti oleh siswa –
Siswa tidak suka sejarah
|
2
|
Belajar stimulus respon(stimulus response
learning)
|
Memberikan reaksipada perangsang (S-R)
|
Gurumemuji tindakan siswa – Siswa cenderung
mengulang
|
3
|
Belajar merangkai tingkah laku (behaviour
chaining learning)
|
Menghubungkan gerakan yang satu dengan yang
lain
|
Membuka pintu mobil – duduk – kotrol
persneling – menghidupkan mesin – menekan kopling – pesang persneling 1 –
menginjak gas
|
4
|
Belajar asosiasi verbal( verbal chaining
learning)
|
Memberikan reaksi verbal pada
stimulus/perangsang
|
Nomor teleponmu? (021) 617812
|
5
|
Belajar diskriminasi(discrimination learning)
|
Memberikan reaksi yang berbeda pada
stimulus-stimulus yang mempunyai kesamaan
|
Menyebutkan merek mobil-mobil yang lewat di
jalan
|
6
|
Belajar konsep(concept learning)
|
Menempatkan obyek-obyek dalam kelompok
tertentu
|
Manusia, ikan paus, kera, anjing, adalah
makhluk menyusui
|
7
|
Belajar kaidah(rule learning)
|
Menghubungkan beberapa konsep
|
Benda bulat berguling pada alas yang miring
|
8
|
Belajar memecahkan masalah(problem solving)
|
Mengembangkan beberapa kaidah menjadi prinsip
pemecahan masalah
|
Menemukan cara memperoleh energi dari tenaga
atom, tanpa mencemarkan lingkungan hidup
|
Dengan demikian, ada beberapa prinsip
pembelajaran dari teori gagne, yaitu antara lain berkaitan dengan:
a.
perhatian dan motivasi belajar peserta didik,
b. keaktifan
belajar dan keterlibatan langsung/pengalaman dalam belajar,
c. pengulangan
belajar,
d.
tantangan semangat belajar,
e.
pemberian umpan balik dan penguatan belajar,
f.
adanya perbedaan individual dalam perilaku belajar.
Selain
itu Gagne juga mementingkan akan adanya penciptaan kondisi beljaar, termasuk
lingkungan belajar, khususnya kondisi yang berbasis media, yaitu meliputi jenis
penyajian yang disampaikan kepada peserta didik dengan penjadwalan, pengurutan
dan pengorganisasian.
4. Kelebihan dan kekurangan model pembelajaran Robert
M.Gagne
Kelebihan Teori Gagne:
- Gagne disebut sebagai modern noebehaviouristik mendorong guru untuk merencanakan pembelajaran agar suasana dan gaya belajar dapat dimodifikasi.
- Sangat cocok untuk memperoleh kemampuan yang membutuhkan praktek dan kebiasaan yang mengandung unsur-unsur seperti kecepatan spontanitas kelenturan reflek, dan daya tahan Contoh : Percakapan bahasa Asing, menari, mengetik, olah raga, dll.
- Cocok diterapkan untuk melatih anak-anak yang masih membutuhkan dominasi peran orang dewasa, suka mengulangi dan harus dibiasakan, suka meniru dan senang dengan bentuk-bentuk penghargaan langsung seperti diberi hadiah atau pujian.
- Dapat dikendalikan melalui cara mengganti mengganti stimulus alami dengan stimulus yang tepat untuk mendapatkan pengulangan respon yang diinginkan, sementara individu tidak menyadari bahwa ia dikendalikan oleh stimulus yang berasal dari luar dirinya.
Kekurangannya:
- Pembelajaran siswa yang berpusat pada guru (teacher centered learning), dimana guru bersifat otoriter, komunikasi berlangsung satu arah, guru melatih dan menentukan apa yang harus dipelajari murid.
- Bersifat meanistik
- Hanya berorientasi pada hasil yang diamati dan diukur
- Murid hanya mendengarkan dengan tertib penjelasan guru dan menghafalkan apa yang didengar dan dipandang sebagai cara belajar yang efektif
C. KESIMPULAN
1.
Pembelajaran menurut Gagne hendaknya mampu menimbulkan persitiwa belajar dan
proses kognitif. Peristiwa belajar (instructional events) adalah
persitiwa dengan urutan sebagai berikut : menimbulkan minat dan memusatkan
perhatian agar peserta didik siap menerima pelajaran, menyampaikan tujuan
pembelajaran agar pseerta didik tahu apa yang diharapkan dala pembelajaran itu,
mengingat kembali konsep/prinsip yang telah dipelajari sebelumnya yang
merupakan prasyarat, menyampaikan materi pembelajaran, memebrikan bimbingan
atau pedoman untuk belajar, membangkitkan timbulnya unjuk kerja peserta didik,
memberikan umpan balik tentang kebenaran pelaksanaan tugas, mengukur/evaluasi
belajar, dan memperkuat referensi dan transfer belajar
2.
Menurut Gagne ada lima kategori kemampuan belajar, yaitu :keterampilan
intelektual atau kemmepuan seseorang untuk berinteraksi dengan lingkungannya
masing-masing dengan penggunaan lambang, strategi/siasat kognitif , informasi
verbal, keterampilan motorik, dan sikap
3.
Gagne mencoba menempatkan delapan tipe belajar itu berada dalam suatu urutan
hirakis, yaitu tipe belajar yang satu menjadi dasar atau landasan tipe belajar
berikutnya
والله
أعلم باالصواب
وقال
تعالى ( وماأوتيتم من العلم إلا قليلا )
DAFTAR RUJUKAN
Dimyati dan Mudjiono, Belajar dan
Pebelajaran, Jakarta:Penerbit Kerjasama Pusat Perbukuan Depdiknas dan PT
Rineka Cipta, 2002
Miarso, Yusufhadi, Menyemai Benih Teknologi
Pendidikan, Jakarta:Penerbit Prenada Media, 2004
Ratna Wilis Dahar, Teori-Teori Belajar, Bandung,
IKIP Bandung, 1988
Suciati dan Irawan, Teori Belajar dan
Motivasi, Jakarta:Depdiknas, Ditjen PT. PAUUT, 2001
Winkel, Psikologi Pengajaran, Yogyakarta:Penerbit
Media Abadi, 2005
[1] Dimyati
dan Mudjiono, Belajar dan Pebelajaran, Jakarta:Penerbit Kerjasama Pusat
Perbukuan Depdiknas dan PT Rineka Cipta, 2002 : hal 41-42
[2] Miarso,
Yusufhadi, Menyemai Benih Teknologi Pendidikan, Jakarta:Penerbit Prenada
Media, 2004:hal245
[3] ibid,
hal 245-246
[4] Suciati
dan Irawan, Teori Belajar dan Motivasi, Jakarta:Depdiknas, Ditjen PT.
PAUUT, 2001: hal 62-65
[5] Miarso,
Yusufhadi, Menyemai Benih Teknologi Pendidikan, Jakarta:Penerbit Prenada
Media, 2004:hal551
[6] Ratna
Wilis Dahar, Teori-Teori Belajar, Bandung, IKIP Bandung, 1988: hal 178
[7] Winkel,
Psikologi Pengajaran, Yogyakarta:Penerbit Media Abadi, 2005: hal 100-101
[8] ibid,
hal 102-103